More

    Kegiatan Citayam Fashion Week Dinilai Mengganggu, Bikin Pro Kontra!

    bieber-news.com – Beberapa waktu belakangan ini kegiatan Citayam Fashion Week menjadi bahan perbincangan hangat khususnya di kalangan remaja di kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Tidak henti-hentinya disoroti pemerintah hingga publik. Bahkan sampai saat ini kawasan tersebut ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah, karena semakin ramainya pengunjung membuat jalanan jadi macet. Karena hal tersebut membuat banyak orang menilai kegiatan ini mengganggu, namun kabar terkini Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta sedang menyiapkan lokasi baru untuk memberikan fasilitas.

    “Nanti kami carikan tempat, tadi kami diskusikan juga semua sama yang terkait, termasuk sama anak-anak, nanti kami carikan tempat” ucap Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria di kawasan Dukuh Atas, Sudirman, Jakarta. Riza kemudian menyebutkan sejumlah lokasi yang masuk daftar usulan relokasi, seperti Senayan, Monas, Taman Ismail Marzuki dan pelataran Sarinah. Rencana pemindahan lokasi dari kawasan Dukuh Atas ini dibunyikan karena banyak orang yang beraksi bak model di zebra cross di kawasan tersebut, karena itu sangat mengganggu ketertiban lalu lintas. Sehingga membuat jalanan sering macet dan mengganggu bagi beberapa pengendara.

    “Di sini sudah sangat ramai, bahkan melebihi kapasitas, kegiatan fashion week ini ke depan mari kita cari tempat yang lebih baik. Jangan di tengah jalan atau di zebra cross karena sangat berbahaya” ucap Riza. “Jangan di tengah jalan, sangat mengganggu ketertiban umum, kita lihat tadi orang susah jalan. Motor bahkan diparkir di atas trotoar sehingga mengganggu orang jalan, jalur sepeda juga digunakan untuk pengguna motor, sehingga ini sangat mengganggu” lanjut penjelasannya. Namun Riza belum dapat memastikan kapan rencana relokasi tersebut dapat dilakukan agar anak-anak dapat melakukan kegiatan Citayam Fashion Week ini.

    Kegiatan-Citayam-Fashion-Week

    Disamping itu sosiolog dari Universitas Indonesia Hari Nugroho menilai bahwa fenomena Citayam Fashion Week ini merupakan tren yang muncul di tengah ketiadaan ruang publik bagi remaja di daerah penyangga Jakarta. Para remaja yang berasal dari Citayam, Bojonggede dan Depok itu kemudian akhirnya mencoba untuk membuat tren dengan nongkrong di pusat Kota Jakarta yang dibalut dengan adu gaya berpakaian yang unik. Kemudian aktivitas tersebut didokumentasikan di media sosial hingga viral, kerumunan di Citayam muncul dan meluas tanpa adanya tokoh penggerak utama.

    “Walaupun ada beberapa nama yang ditokohkan di antara komunitas Citayam itu, tapi mereka bukan pemimpin penggerak sepertinya” ucap Hari. “Jadi, menurut saya fenomena Citayam ini hanya fenomena populer saja, dari ketiadaan ruang bagi anak muda di kita satelit Jakarta untuk berekspresi, untuk membangun identitas mereka. Kebetulan juga tempat di kawasan Sudirman tersebut menyediakan arenanya” ucapnya. Ia menilai bahwa Citayam Fashion Week ini tidak akan bertahan lama karena kemunculannya yang spontan. “Menurut saya tidak akan bertahan lama, karena itu hanya respons populer saja.”

    “Kemunculannya itu merupakan sebuah komunitas cair yang tidak terstruktur, yang terkonstruksi secara spontan” ucap Hari mengenai kegiatan Citayam Fashion Week ini. Nirwono mengatakan, di sejumlah kota besar, penggunaan zebra cross untuk sejumlah kegiatan adalah hal yang jamak dilakukan, yang paling penting kegiatan ini jangan sampai mengganggu kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan. “Zebra cross memang digunakan untuk menyebrang, tapi disaat bersamaan ketika lampu lalu lintas merah/berhenti, zebra cross sebagai ruang publik yang digunakan berbagai kalangan,”

    “Selain itu dapat digunakan untuk berbagai kegiatan dalam waktu singkat, termasuk fashion show pantomim, berteater, bermusik dan bernyanyi” ucap Nirwono. “Hal ini sendiri sudah jamak dilakukan di kota-kota dunia seperti yang populer di London, New York, Paris, hingga Tokyo, yang menarik perhatian warga dan penggunaan lalu lintas” lanjutnya. Maka dari itu Nirwono tidak satu pendapat dengan pernyataan Pemerintah Kota Jakarta Pusat Irwandi yang melarang kegiatan fashion show di zebra cross. Seperti yang diketahui Zebra Cross digunakan sebagai penyebrangan.

    Meskipun begitu, kini ada cukup banyak orang yang menggunakan zebra cross sebagai kegiatan publik, sebenarnya hal ini tidak apa-apa asalkan tidak mengganggu arus lalu lintas. Pemprov DKi sendiri tidak melarang kegiatan Citayam Fashion Week tersebut, justru akan memberikan fasilitas, seperti memasang lampu lalu lintas di zebra cross Dukuh Atas. Sehingga lenggak-lenggok muda-mudi di atas zebra cross tidak mengganggu kendaraan bermotor yang melintas, selain itu Pemprov juga diminta untuk terus menerjunkan petugas untuk jadi ketertiban disana.

    Related articles

    Comments

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Share article

    Latest articles

    Newsletter

    Subscribe to stay updated.